Padang (UNAND) - Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Sumatra Barat selama sepekan terakhir menyebabkan banjir dan longsor di berbagai wilayah. Kondisi serupa juga dialami oleh Sumatra Utara dan Aceh. Salah satu lokasi yang terdampak adalah Kecamatan Pauh, kawasan yang banyak dihuni mahasiswa serta sivitas akademika 杏吧原版影音. Banjir merendam kos-kosan dan rumah warga, memaksa sejumlah penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagai bentuk misi kemanusian 杏吧原版影音 membuka posko tanggap bencana untuk mahasiswa dan masyarakat sekitar di Mesjid Nurul Ilmi. Berbagai bantuan juga diberikan, berupa sandang dan pangan.
Menanggapi kondisi saat ini, tim UNAND mewawancarai Prof. Marzuki ketua LPPM UNAND. Bencana yang terjadi saat ini termasuk kategori hidrometeorologi, yaitu bencana yang dipicu langsung oleh fenomena cuaca. Secara sederhana, hidrometeorologi adalah bencana yang disebabkan oleh dinamika atmosfer atau cuaca," jelasnya.
Ia menerangkan secara teori, siklon sangat jarang terjadi di daerah khatulistiwa, termasuk Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Hal ini karena beberapa syarat pembentukan sikolon tidak terpenuhi, salah satunya gaya Coriolis, dyaa yang timbul akibat rotasi bumi.听
鈥淪emakin jauh dari khatulistiwa, gaya Coriolis semakin besar. Di garis khatulistiwa, gaya Coriolis itu nol. Itu sebabnya siklon dan fenomena rotasi fluida lainnya sangat jarang terbentuk di sekitar Sumatra Barat,鈥 jelasnya.
Namun, fenomena yang terjadi saat ini sedikit berbeda. Siklon terjadi pada lautan yang sempit, yaitu Selat Malaka. Biasanya siklon tropis terbetuk pada lautan yang luas seperti samudera bukan di selat. Selain itu, siklon terjadi dalam lintang kurang dari 5 derajat. Biasanya siklon terbentuk pada lintang di atas 5 derajat dimana gaya Coriolis sudah cukup kuat. Perbedaan lain, Siklon bergerak mendekati Katulistiwa, dimana pada kebanyakan Siklon tropis pergerakannya menjauh dari Katulistiwa.
Prof. Marzuki menegaskan bahwa siklon yang terjadi saat ini sebenarnya lebih lemah dibandingkan siklon besar seperti yang terjadi di Filipina. Namun dampaknya justru terasa besar di Sumatra. Hal ini terjadi karena pergerakan siklon tidak mengikuti pola normalnya.
鈥淏iasanya siklon bergerak menjauhi khatulistiwa. Saat bergerak menjauh, gaya Coriolis makin besar sehingga kecepatannya meningkat dan ia akan cepat berpindah,鈥 paparnya.
Yang terjadi saat ini justru sebaliknya, 鈥淪iklon malah bergerak mendekati khatulistiwa. Akibatnya 鈥榓munisinya鈥 berkurang, pergerakannya melambat, dan ia menjadi almost stationary atau hampir tidak bergerak. Karena itu hujan turun terus-menerus selama beberapa hari,鈥 jelasnya.
Fenomena ini membuat hujan bertahan lebih lama dan menimbulkan dampak luas di berbagai daerah. Selain faktor cuaca, Prof. Marzuki menekankan bahwa kerusakan lingkungan turut memperparah kondisi.
鈥淐urah hujan tinggi memicu banjir, tetapi kerusakan besar yang kita lihat di sungai, jembatan putus, kayu gelondongan hanyut, dan perubahan aliran sungai, itu tidak murni faktor iklim. Ada faktor lingkungan yang sudah terganggu,鈥 ujarnya.
Ia menegaskan bahwa sungai memiliki jalur alami. Ketika jalur itu rusak akibat aktivitas manusia, bencana pun menjadi lebih parah.
鈥淎lam itu selalu mencari jalannya. Apa pun yang kita lakukan terhadap alam akan memengaruhi bagaimana ia mengalir,鈥 katanya.
Prof. Marzuki juga mengungkapkan bahwa ia bersama mahasiswa sedang melakukan penelitian khusus mengenai siklon ini, bekerja sama dengan peneliti dari Polandia, Brunei, serta BMKG sebagai penyedia data.
鈥淪alah satu pertanyaan besar kami adalah: kenapa siklon bergerak mendekati khatulistiwa, padahal itu bertentangan dengan sifat alaminya? Penelitian ini diharapkan memberi insight baru bagi dunia atmosfer dan klimatologi,鈥 tuturnya.
Menutup wawancara, Prof. Marzuki menegaskan pentingnya memperbaiki tata kelola lingkungan untuk meminimalkan kerusakan saat bencana terjadi.
鈥淗ujan mungkin tidak bisa kita kendalikan, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Kuncinya ada pada pengelolaan lingkungan,鈥 ujarnya. (N)
听
Humas, Protokol, dan Layanan Informasi Publik
听
听 

