Di era media sosial yang serba terbuka, semakin banyak orang tua mengalami situasi yang dulu terasa tidak terpikirkan: dibatasi, di-mute, bahkan di-block oleh anaknya sendiri. Sekilas, ini mudah dibaca sebagai bentuk pembangkangan atau jarak emosional. Namun jika ditarik sedikit lebih jauh, fenomena ini justru menunjukkan perubahan mendasar dalam cara generasi muda memahami privasi.

Bagi Generasi Z, privasi bukan lagi tentang menyembunyikan diri, melainkan tentang mengatur audiens. Mereka tidak berhenti berbagi, tetapi menjadi lebih selektif terhadap siapa yang boleh melihat. Ini bukan sikap tertutup, melainkan strategi sosial yang lahir dari kondisi digital yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Generasi ini tumbuh dalam lingkungan yang ditandai oleh keterbukaan ekstrem. Hampir semua hal bisa direkam, disimpan, dan diakses kembali tanpa batas waktu. Jejak digital tidak pernah benar-benar hilang. Apa yang diunggah hari ini bisa muncul kembali di masa depan, dipotong dari konteksnya, dan dinilai oleh orang yang bahkan tidak dikenal. Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian bukan lagi pilihan moral, tetapi kebutuhan praktis.

Kesadaran tersebut membentuk cara mereka menggunakan media sosial. Akun utama yang tampak “sepi”, rapi, dan cenderung formal sebenarnya bukan tanda bahwa mereka tidak aktif. Justru sebaliknya, itu menunjukkan adanya proses pengelolaan diri. Akun utama dipahami sebagai ruang publik, bukan lagi ruang personal. Di sana, yang ditampilkan adalah versi diri yang aman, yang bisa diterima oleh berbagai kelompok sekaligus.

Masalahnya, kehidupan sosial tidak pernah sesederhana satu lapisan identitas. Ada kebutuhan untuk berbagi secara lebih spontan, lebih jujur, dan lebih kontekstual. Ada emosi yang tidak selalu cocok ditampilkan di ruang publik. Ada juga pengalaman sehari-hari yang hanya masuk akal bagi lingkaran pertemanan tertentu. Kebutuhan inilah yang kemudian melahirkan praktik penggunaan second account atau akun kedua.

Bagi banyak anak muda, akun kedua bukan sekadar alternatif, melainkan ruang yang memiliki fungsi sosial berbeda. Audiensnya lebih terbatas dan lebih terpilih. Di sana, mereka bisa berbagi hal-hal yang lebih personal tanpa harus mempertimbangkan penilaian dari publik yang lebih luas. Ini bukan “kehidupan ganda”, melainkan bentuk segmentasi audiens—menempatkan ekspresi sesuai konteks relasi.

Dalam kerangka ini, kehadiran orang tua di media sosial anak seringkali menciptakan ketegangan yang tidak selalu disadari. Dulu, dunia pergaulan anak dan dunia orang tua memiliki batas yang cukup jelas. Kini, batas tersebut menjadi kabur. Orang tua bisa melihat unggahan anak, memberi komentar, bahkan ikut hadir dalam dinamika sosial yang sebenarnya tidak ditujukan untuk mereka.

Bagi orang tua, ini sering dimaknai sebagai bentuk perhatian. Namun bagi anak, hal yang sama bisa terasa sebagai pengawasan. Kehadiran audiens yang berbeda dalam satu ruang yang sama membuat proses berbagi menjadi lebih kompleks. Anak tidak hanya memikirkan apa yang ingin mereka unggah, tetapi juga bagaimana unggahan tersebut akan ditafsirkan oleh berbagai pihak.

Akibatnya, muncul proses negosiasi internal sebelum setiap unggahan. Hal yang awalnya ringan bisa terasa berat karena harus dipikirkan ulang dalam berbagai kemungkinan. Dalam kondisi seperti ini, membatasi akses menjadi cara yang paling sederhana untuk mengurangi beban tersebut. Fitur seperti close friends, mute, hingga block menjadi alat untuk mengelola siapa yang berada di dalam lingkaran komunikasi tertentu.

Penting untuk dipahami bahwa keputusan ini tidak selalu berangkat dari keinginan untuk menjauh. Justru seringkali ini adalah cara untuk menjaga hubungan tetap stabil. Dengan membatasi akses, anak tidak perlu menjelaskan setiap unggahan, tidak perlu menghadapi potensi konflik kecil yang berulang, dan tidak perlu merasa diawasi dalam setiap ekspresi digitalnya.

Namun dari sisi orang tua, situasi ini tentu tidak mudah diterima. Ada perasaan tidak dilibatkan, tidak dipercaya, bahkan ditolak. Di sinilah sering muncul salah paham. Anak merasa sedang menciptakan ruang yang sehat, sementara orang tua merasa kehilangan kedekatan.

Padahal jika dilihat lebih luas, yang terjadi sebenarnya adalah bentuk adaptasi terhadap perubahan struktur komunikasi. Generasi Z bukan generasi yang lebih tertutup, tetapi generasi yang lebih sadar akan batas. Mereka memahami bahwa tidak semua hal perlu dibagikan kepada semua orang, dan bahwa keterbukaan tanpa kontrol justru dapat menimbulkan risiko.

Menariknya, praktik ini juga menunjukkan tingkat literasi digital yang cukup tinggi. Generasi Z tidak sekadar menggunakan media sosial, tetapi juga mengelolanya secara strategis. Mereka memahami bahwa setiap platform memiliki karakteristik berbeda, setiap audiens memiliki ekspektasi yang berbeda, dan setiap unggahan memiliki konsekuensi yang berbeda pula.

Namun strategi ini juga tidak sepenuhnya tanpa beban. Mengelola beberapa ruang identitas sekaligus membutuhkan energi. Individu harus terus mengingat siapa yang melihat apa, menjaga batas antar audiens, dan menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan kelelahan emosional, terutama ketika batas-batas tersebut mulai tumpang tindih.

Di sisi lain, fenomena ini juga mengingatkan bahwa kedekatan tidak selalu berarti akses tanpa batas. Dalam setiap hubungan, selalu ada ruang pribadi yang tidak sepenuhnya dibagikan. Ruang ini bukan tanda jarak, melainkan bagian dari struktur relasi itu sendiri. Dalam konteks digital, ruang tersebut menjadi lebih terlihat karena adanya teknologi yang memungkinkan pengaturan akses secara eksplisit.

Karena itu, mungkin yang perlu diubah bukan cara anak menggunakan media sosial, tetapi cara kita memahaminya. Alih-alih memaksa untuk melihat semua, pendekatan yang lebih relevan adalah membangun komunikasi yang terbuka di luar layar. Bukan tentang apa yang diunggah, tetapi tentang bagaimana mereka menjalani pengalaman sosialnya.

Fenomena “di-block anak sendiri” pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang konflik generasi. Ia adalah refleksi dari perubahan cara manusia berkomunikasi di era digital. Ketika ruang publik dan privat semakin kabur, kemampuan untuk mengelola audiens menjadi keterampilan yang penting. Generasi Z tidak berhenti berbagi. Mereka hanya memilih kepada siapa mereka berbagi. Dan dalam dunia yang semakin terbuka, pilihan itu menjadi bentuk baru dari privasi.

Penulis: Yayuk Lestari (Dosen Ilkom UNAND)