ÌýÌý
Ìý Ìý
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan gambut merupakan bencana lingkungan yang kompleks dan telah berlangsung lebih dari enam bulan (Oktober 2026). Api tidak hanya menghancurkan vegetasi, tetapi juga mengonsumsi bahan organik penyusun tanah gambut yang terbentuk selama ratusan hingga ribuan tahun. Ketika kebakaran berlangsung, masyarakat menghadapi dua ancaman sekaligus, yaitu kerusakan ekosistem dan penurunan kualitas udara akibat pelepasan partikel serta gas hasil pembakaran.
Read more: Teknologi Modifikasi Cuaca dan Karhutla: Mengapa Hujan Belum Juga Memadamkan Gambut?
Dalam perdebatan kebijakan ekonomi Indonesia, istilah neoliberal sering kali digunakan dengan konotasi negatif. Kebijakan privatisasi, liberalisasi perdagangan, pengurangan subsidi, maupun perluasan peran swasta tidak jarang memperoleh kritik sebagai bentuk neoliberalisme yang dianggap lebih berpihak kepada pemilik modal daripada kepentingan masyarakat luas. Istilah neoliberal bahkan sering digunakan sebagai label politik untuk menolak suatu kebijakan tanpa terlebih dahulu menilai manfaat dan dampak ekonominya.
Read more: Sosialistik versus Neoliberal: Mana yang Lebih Cepat Menuju Welfare?
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026 masih menjadi ancaman lingkungan di enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan (Gambar 1). Berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan, hingga 14 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB terdeteksi sebanyak 294 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi, terbanyak di Kalimantan Tengah (130 titik), Sumatera Selatan (91 titik), dan Kalimantan Barat (59 titik).
Read more: Ketika Tanah Ikut Terbakar: Mengungkap Kerusakan Pasca-Karhutla
Cabai merupakan tanaman konsumsi harian masyarakat Indonesia. Di Sumatera Barat, cabai diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari rendang, gulai, dendeng balado, sambal lado, hingga beragam masakan rumah tangga dan makanan di rumah makan Padang yang menjadi pembentuk karakter kuliner di Minangkabau.
Read more: Virus Tanaman Cabai sebagai Alternatif Indikator Pencemaran Air
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan persoalan lingkungan yang berulang di Indonesia. Selain merusak vegetasi dan tanah, kebakaran menghasilkan aerosol yang dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumbernya. Kabut asap yang terbentuk tidak hanya mengganggu kesehatan dan transportasi, tetapi juga mengubah kondisi atmosfer yang menentukan ketersediaan cahaya matahari bagi tanaman.
Read more: Membaca Ancaman Kabut Asap terhadap Pertanian dari Satelit