Beberapa bulan lalu, tulisan saya mengenai perlambatan ekonomi Sumatera Barat mendapat perhatian cukup luas di berbagai media (/berita/kepakaran/1723-pertumbuhan-ekonomi-sumbar-perlambatan-unand). Inti dari tulisan tersebut sederhana, perlambatan ekonomi Sumbar bukan fenomena sementara, melainkan berlangsung secara sistematis dan bertahap selama lebih dari satu dekade. Argumentasi itu didasarkan pada satu hal penting, yaitu tidak adanya perubahan struktur ekonomi yang cukup kuat untuk menciptakan mesin pertumbuhan baru.
Pandangan tersebut sebenarnya juga pernah disampaikan lebih awal dalam Seminar Forum Ekonom Kementerian Keuangan di Padang pada Oktober 2017. Saat itu telah disampaikan bahwa tanpa transformasi struktural, pertumbuhan Sumatera Barat akan cenderung melandai secara bertahap. Industri pengolahan tidak menunjukkan pendalaman berarti, hilirisasi berjalan lambat, dan sektor-sektor baru yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan belum benar-benar terbentuk.
Karena itu, ketika pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tahun 2025 hanya berada di kisaran 3,37 persen, kondisi tersebut sesungguhnya tidak terlalu mengejutkan.
Yang menarik justru adalah rilis terbaru Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa ekonomi Sumbar pada Triwulan I-2026 tumbuh 5,02 persen secara year-on-year. Angka ini tentu memunculkan optimisme baru. Pertanyaannya kemudian, apakah pertumbuhan 5 persen ini menandakan bahwa perlambatan ekonomi Sumbar telah berakhir? Jawabannya tampaknya belum sesederhana itu. Jika dilihat sepintas, pertumbuhan 5,02 persen memang terlihat impresif. Bahkan dibanding beberapa triwulan sebelumnya, angka ini cukup tinggi. Namun dalam analisis ekonomi, yang lebih penting bukan hanya angka pertumbuhan, melainkan sumber dan kualitas pertumbuhan tersebut.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan Q1-2026 terutama didorong oleh ekspor barang dan jasa yang tumbuh 15,24 persen, konsumsi pemerintah sebesar 14,77 persen, dan investasi atau PMTB sebesar 7,64 persen. Sekilas, kombinasi ini terlihat sangat positif karena menunjukkan aktivitas ekonomi yang meningkat. Namun persoalannya muncul ketika impor juga tumbuh sangat tinggi, bahkan mencapai 20,14 persen. Dalam struktur PDRB, impor merupakan faktor pengurang. Ketika kontribusi ekspor terhadap sumber pertumbuhan mencapai sekitar 8,97 persen, impor justru mengurangi sekitar 8,68 persen. Ini menunjukkan bahwa ketika aktivitas ekonomi meningkat, ketergantungan terhadap barang dan input dari luar daerah juga ikut meningkat tajam. Aktivitas ekonomi tumbuh, tetapi sebagian besar efeknya masih bocor keluar daerah melalui kebutuhan bahan baku, barang modal, dan input produksi dari luar Sumbar. Dengan kata lain, keterkaitan internal ekonomi daerah masih relatif lemah.
Dari sisi konsumsi rumah tangga, pertumbuhannya justru hanya sekitar 3,11 persen. Ini relatif rendah dibanding pertumbuhan ekonomi total. Padahal selama ini ekonomi Sumbar sangat ditopang oleh konsumsi domestik. Bahkan share konsumsi rumah tangga masih sekitar 51,84 persen terhadap PDRB. Artinya, akselerasi pertumbuhan Q1-2026 bukan terutama berasal dari penguatan daya beli masyarakat, melainkan lebih dipengaruhi ekspor, investasi, dan belanja pemerintah.
Dari sisi produksi, analisisnya bahkan lebih menarik. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 17,77 persen. Ini jelas menunjukkan adanya peningkatan aktivitas mobilitas dan pariwisata. Namun ketika dilihat lebih dalam, kontribusi sektor ini terhadap total PDRB Sumatera Barat ternyata hanya sekitar 1,53 persen. Artinya, meskipun pertumbuhannya sangat tinggi, dampaknya terhadap keseluruhan ekonomi tetap terbatas karena ukuran sektornya kecil. Ini menjadi menarik karena selama bertahun-tahun pariwisata sering disebut sebagai motor penggerak baru ekonomi Sumbar. Namun data wisatawan mancanegara menunjukkan kenyataan berbeda. Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Sumbar praktis stagnan sejak 2014 di kisaran sekitar 56 ribu orang per tahun. Sempat mencapai puncak sekitar 89 ribu wisatawan pada 2016, kemudian turun dan belum benar-benar pulih secara struktural hingga sekarang. Dengan basis kunjungan yang relatif kecil dan stagnan, sulit mengharapkan pariwisata menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Yang lebih penting lagi adalah melihat struktur sektor utama Sumbar yang ternyata hampir tidak berubah. Pertanian masih menjadi sektor terbesar dengan kontribusi sekitar 22,03 persen. Perdagangan sekitar 16,84 persen. Transportasi dan pergudangan sekitar 10,69 persen. Konstruksi sekitar 9,18 persen. Industri pengolahan hanya sekitar 8,51 persen. Di sinilah persoalan utamanya.
Meski ekonomi tumbuh 5 persen, struktur dasarnya tetap relatif sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Tidak terlihat peningkatan signifikan peran industri pengolahan. Tidak ada industrial deepening yang kuat. Tidak muncul sektor manufaktur baru yang menjadi mesin pertumbuhan utama. Padahal dalam teori pembangunan ekonomi, pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan hampir selalu ditopang transformasi struktural. Negara atau daerah yang berhasil mempertahankan pertumbuhan tinggi biasanya mengalami peningkatan peran sektor industri, hilirisasi, dan aktivitas bernilai tambah tinggi. Tanpa perubahan struktur seperti itu, pertumbuhan cenderung bersifat sementara atau moderat.
Karena itu, pertumbuhan 5,02 persen pada Q1-2026 tampaknya lebih tepat dibaca sebagai rebound pertumbuhan daripada perubahan fundamental struktur ekonomi. Ini tentu bukan kabar buruk. Pertumbuhan tetap penting dan perlu diapresiasi. Namun terlalu cepat menyimpulkan bahwa persoalan perlambatan telah selesai juga berisiko menyesatkan arah kebijakan. Tantangan utama Sumatera Barat tampaknya masih sama, bagaimana menciptakan transformasi ekonomi yang nyata. Tanpa pendalaman industri, tanpa hilirisasi pertanian dan perikanan yang serius, tanpa peningkatan produktivitas UMKM, dan tanpa penguatan keterkaitan ekonomi lokal, pertumbuhan tinggi akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Pertanyaan paling penting saat ini bukan lagi apakah Sumatera Barat bisa tumbuh 5 persen pada satu triwulan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, apakah struktur ekonominya sudah berubah cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan tersebut secara berkelanjutan? Jika jawabannya belum, maka perlambatan jangka panjang masih berpotensi berlanjut, meskipun sesekali diselingi oleh angka pertumbuhan yang terlihat tinggi.
Penulis: Dr. Hefrizal Handra (Dosen FEB UNAND)
Ìý Ìý

