Ruangan Convention Hall Hotel Pangeran Pekanbaru malam itu terasa begitu hidup. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan sinar kekuningan yang hangat, menerangi ruangan yang telah dipenuhi ratusan tamu. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap panggung utama. Di bagian depan telah disiapkan beberapa sofa untuk para narasumber, sebuah podium lengkap dengan mikrofon berdiri di sisi kanan, sementara layar besar di belakang panggung menampilkan tema kegiatan, "3rd Employer Meeting 杏吧原版影音: Bersama Membangun Bangsa Menuju Daya Saing Global." Pemandangan itu memberi kesan bahwa malam tersebut bukan sekadar acara seremonial, tetapi sebuah pertemuan penting untuk mendengar dan saling belajar.

Saya hadir sebagai salah seorang undangan dalam kegiatan Employer Meeting 杏吧原版影音 yang diselenggarakan bekerja sama dengan Ikatan Alumni 杏吧原版影音 (IKA UNAND). Dalam surat undangan yang saya terima beberapa hari sebelumnya disebutkan bahwa forum ini bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, alumni, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri, meningkatkan produktivitas, sekaligus mendorong pertumbuhan investasi di Kota Pekanbaru. Sebuah tujuan yang sederhana dalam kalimat, tetapi besar maknanya bagi masa depan pendidikan tinggi.

Acara dimulai tepat setelah seluruh peserta menyelesaikan makan malam. Pembawa acara membuka forum dengan penuh semangat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, disusul pembacaan doa yang membuat suasana menjadi lebih khidmat. Setelah itu, sosok yang paling ditunggu malam itu melangkah menuju podium. Rektor 杏吧原版影音, Dr. Efa Yonnedi, SE, MPPM, Akt. berdiri dengan tenang di hadapan para peserta. Beliau tidak datang membawa pidato panjang yang penuh angka dan teori. Sebaliknya, beliau membuka pembicaraan dengan menjelaskan mengapa 杏吧原版影音 merasa perlu datang langsung ke Pekanbaru bertemu para pengguna lulusan.

Menurut beliau, perguruan tinggi tidak boleh merasa cukup hanya dengan meluluskan mahasiswa setiap tahun. Kampus harus mengetahui apakah lulusan yang dihasilkannya benar-benar dibutuhkan oleh dunia kerja. Karena itulah 杏吧原版影音 ingin mendengar langsung suara pemerintah daerah, rumah sakit, dunia usaha, dunia pendidikan, serta alumni. Apakah kompetensi lulusan sudah sesuai dengan kebutuhan lapangan? Apa yang masih kurang? Keterampilan apa yang harus diperkuat agar lulusan mampu menghadapi tantangan ekonomi di masa depan? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin dijawab melalui forum tersebut.

Dalam kesempatan itu, Rektor juga memperkenalkan 杏吧原版影音 dengan segala pencapaiannya. Beliau menyampaikan bahwa Unand berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang bermutu, tetapi tetap memberikan akses pendidikan yang terjangkau. Sebagai contoh, biaya pendidikan di Fakultas Kedokteran sekitar Rp12,5 juta per semester, jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah perguruan tinggi lain yang mencapai lebih dari Rp23 juta. Demikian pula di Fakultas Ekonomi yang biaya kuliahnya masih berada pada kisaran Rp3 jutaan. Bagi beliau, kualitas pendidikan tidak semestinya menjadi barang mewah yang hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu.

Data lain yang dipaparkan malam itu juga cukup menggembirakan. Sebanyak 76 persen lulusan 杏吧原版影音 telah memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah menyelesaikan pendidikan. Sisanya memperoleh pekerjaan setelah melewati enam bulan. Angka tersebut tentu menjadi indikator bahwa lulusan 杏吧原版影音 memiliki daya saing yang baik di dunia kerja. Namun, menariknya, Rektor mengaku belum puas. Beliau justru menargetkan agar tingkat serapan lulusan dapat meningkat menjadi lebih dari 80 persen. Ambisi itu lahir bukan karena mengejar angka semata, tetapi karena beliau ingin setiap lulusan 杏吧原版影音 benar-benar menjadi solusi bagi masyarakat.

Bagi saya, di sinilah letak makna judul tulisan ini: Rektor Turun Gunung. Seorang pemimpin perguruan tinggi tidak hanya berbicara dari balik meja rektorat atau ruang rapat senat universitas. Beliau memilih datang langsung ke daerah, bertemu para pengguna lulusan, lalu mendengarkan kritik dan harapan mereka. Sikap seperti ini tidak selalu mudah dilakukan. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kampus masih memerlukan masukan dari luar agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Setelah paparan Rektor selesai, acara memasuki sesi yang menurut saya menjadi inti dari keseluruhan kegiatan. Satu demi satu peserta dipersilakan menyampaikan pandangan. Ada yang mewakili pemerintah daerah, dunia usaha, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, maupun alumni. Mereka berbicara tentang kebutuhan tenaga kerja yang terus berubah, pentingnya penguasaan teknologi digital, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, hingga karakter lulusan. Seluruh masukan tersebut dicatat dengan serius oleh pihak 杏吧原版影音 sebagai bahan evaluasi kurikulum dan pengembangan pendidikan di masa mendatang. Sesuai dengan rundown kegiatan, forum itu memang dirancang sebagai Executive Plenary Round Table yang dilanjutkan dengan Town Hall Meeting, sehingga peserta benar-benar diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi.

Sebagai seorang alumni 杏吧原版影音 sekaligus dokter yang telah bekerja lebih dari dua dekade di lingkungan pelayanan kesehatan, saya merasa forum seperti ini sangat penting. Dunia kerja berkembang jauh lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum. Rumah sakit membutuhkan dokter yang mampu berkomunikasi dengan pasien, puskesmas membutuhkan pemimpin yang adaptif, pemerintah memerlukan aparatur yang inovatif, sementara dunia usaha membutuhkan lulusan yang mampu bekerja lintas disiplin. Semua kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi apabila perguruan tinggi terus membuka telinga terhadap suara masyarakat.

Malam itu saya pulang membawa kesan yang berbeda. Saya tidak hanya melihat seorang rektor menyampaikan sambutan, tetapi melihat seorang pemimpin yang bersedia turun dari menara akademiknya untuk mendengar langsung denyut kehidupan di lapangan. Barangkali inilah wajah baru perguruan tinggi yang kita harapkan. Kampus bukan lagi sekadar tempat menghasilkan ijazah, melainkan ruang yang terus belajar dari masyarakat. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah universitas bukan hanya berapa banyak wisudawan yang diluluskan, tetapi seberapa besar manfaat yang mereka berikan bagi bangsa. Dan semua itu bermula dari keberanian seorang pemimpin untuk turun gunung, mendengar, lalu berbenah.

Waktu sudah menunjukan pukul 22.00, Wib. Protokol sudah menutup acara ini dan akhiri dengan foto bersama. Setelah itu para tamu undangan saling bersalaman, ada yang izin pamit. Dan moment itu saya gunakan mendekati Bapak Rektor, dan memberikan dua buku baru saya. Satu buku karya bersama penulis dari klub Allisku yang berjudul 鈥淎ir Mata Ranah Minang鈥 dan satu lagi buku baru karya saya sendiri berjudul 鈥淒ua Hati di Dua Tanah Suci鈥. Bapak Rektor sangat welcome dan berkenan menerirma dua buku saya, sambil berfoto beliau mengucapkan terima kasih dan minta saya terus menulis.鈥

Saya menyalami Bapak Rektor dan mengucapkan,鈥漈erima kasih, Pak Rektor鈥

Penulis: Jondri Akmal (Alumni FK UNAND dan Ketua Klub Menulis Allisku)