Bayang-bayang tidak bisa dikejar. Ia melekat pada badan. Justru badanlah yang membuat bayang-bayang itu ada. Selama cahaya masih menerpa, bayang-bayang akan selalu mengikuti. Namun ketika gelap datang, bayang-bayang pun sirna.
Metafora sederhana ini menggambarkan hubungan antara penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di perguruan tinggi.
Penelitian adalah salah satu tugas utama perguruan tinggi. Dosen melakukan penelitian, menghasilkan temuan, menulis artikel ilmiah, kemudian mempublikasikannya dalam jurnal. Publikasi menjadi salah satu ukuran utama produktivitas akademik. Sitasi bertambah, H-index meningkat, dan rekam jejak akademik pun semakin baik.
Semua itu tentu penting. Ilmu pengetahuan harus didokumentasikan dan disebarluaskan melalui publikasi ilmiah yang teruji. Persoalannya muncul ketika penelitian berhenti di sana.
Penelitian yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan dan solusi bagi masyarakat terkadang berakhir sebagai artikel yang tersimpan rapi di repositori jurnal. Ia menjadi pengetahuan yang dibaca oleh kalangan akademik, dikutip oleh peneliti lain, lalu menghasilkan publikasi berikutnya. Sementara persoalan nyata yang menjadi latar belakang penelitian tetap berada di tempatnya.
Pemandangan ini terasa kian benderang ketika kita mencermati momentum perayaan perayaan hari jadi perguruan tinggi. Sebagaimana yang baru saja berlangsung dalam momentum perayaan Dies Natalis 杏吧原版影音 (UNAND) yang ke-70 (Lustrum X), panggung perayaan tampak bertabur piala, plakat, dan deretan penghargaan. Kampus merayakan aneka capaian inovasi, piagam apresiasi, dan karya yang berhasil menembus ruang publik serta dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat.
Namun, di balik riuh tepuk tangan perayaan tersebut, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: dari mana sejatinya karya-karya inovasi yang dihargai itu bermula?
Jika dibedah secara saksama, sebagian besar capaian inovasi dan program kebermanfaatan yang menonjol tersebut lahir dari inisiatif, kegigihan, serta rekam jejak independen para alumni di lapangan. Karya-karya hebat itu tumbuh dari ketangguhan alumni yang berbenturan langsung dengan realitas dunia kerja. Sangat sedikit dari deretan penghargaan tersebut yang benar-benar berakar, dirancang, dan dimulai dari laboratorium riset institusi yang kemudian ditindaklanjuti secara sistematis melalui pengabdian berbasis penelitian.
Di sinilah letak ironi utama ekosistem keilmuan kita. Perguruan tinggi kerap dengan bangga memetik dan memamerkan buah inovasi di panggung seremonial, tetapi lupa memeriksa apakah pohon penelitian di dalam laboratoriumnya sendiri benar-benar menghasilkan buah tersebut.
H-index yang tinggi atau jumlah publikasi yang melimpah kerap dijadikan ukuran utama kehebatan seorang akademisi. Namun, H-index tidak serta-merta menunjukkan kemampuan seseorang dalam menerjemahkan keilmuannya menjadi bahasa yang membumi.
Ada dosen dengan H-index menjulang yang mencoba menulis di media massa agar pemikirannya menjangkau publik luas. Niat ini tentu patut diapresiasi. Namun, ketika artikelnya dibaca, publik justru merasa sedang membaca manuskrip jurnal bereputasi Q1 yang dipindahkan ke koran. Bahasa yang digunakan penuh jargon kaku, struktur bernalar serba teoretis, dan istilah teknis bertebaran tanpa penjelasan yang renyah. Seolah-olah tembok menara gading dan tradisi akademik yang tertutup ikut terbawa ke halaman media massa. Akibatnya, alih-alih mencerahkan pembaca awam, tulisan tersebut hanya dipahami oleh sesama akademisi dari bidang yang sama.
Fenomena ini sejatinya lahir dari ketakutan akademisi untuk meruntuhkan keakuannya. Ada kegagapan untuk membumikan konsep saintifik yang rumit menjadi sintesis yang lugas. Padahal, masyarakat tidak membutuhkan puluhan halaman laporan atau persamaan matematis yang rumit. Mereka membutuhkan jawaban yang sederhana dan praktis: apa masalahnya, mengapa itu terjadi, dan apa solusi konkret yang dapat diterapkan? Kemampuan mengubah ilmu yang rumit menjadi pengetahuan yang renyah dan bermanfaat sesungguhnya merupakan bagian inti dari pengabdian itu sendiri.
Di sisi lain, kegiatan pengabdian masyarakat di kampus juga sering kehilangan ruh keilmuannya. Banyak program pengabdian berjalan riuh, foto dokumentasi lengkap, dan laporan administrasi tuntas, tetapi substansi akademisnya pudar. Pengabdian seolah diartikan sebatas pembagian bibit, penyuluhan formalitas, atau bakti sosial sesaat tanpa didasari oleh analisis data laboratorium dan kajian pemodelan yang matang. Jika pengabdian kampus tidak ada bedanya dengan kegiatan bakti sosial biasa tanpa sentuhan metodologi ilmiah, lalu di mana letak keunggulan perguruan tinggi?
Penelitian dan pengabdian semestinya tidak berjalan terpisah. Penelitian melahirkan inovasi dan metode, yang kemudian diterapkan di tengah masyarakat melalui pengabdian. Sebaliknya, dinamika dan persoalan yang ditemui di lapangan saat pengabdian semestinya menjadi bahan bakar bagi agenda penelitian berikutnya.
Secara kelembagaan, kedua fungsi ini sudah disatukan di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Namun, seperti pepatah Minangkabau: 鈥sarumah bajauhan hati鈥濃攖inggal dalam satu rumah, tetapi berjalan sendiri-sendiri. Peneliti sibuk mengejar target publikasi, pelaksana pengabdian sibuk memenuhi laporan kegiatan, dan kampus sibuk mengklaim prestasi alumni.
Memasuki usia ke-70 tahun, perguruan tinggi tidak boleh menjadikan kebermanfaatan publik hanya sebagai bayang-bayang dari gemerlap perayaan seremonial semata. Ilmu pengetahuan harus memiliki badan yang utuh: hadir di laboratorium, teruji secara ilmiah, disampaikan dengan bahasa yang membumi, turun ke masyarakat, dan benar-benar melahirkan perubahan yang nyata.

Suasana kemeriahan Malam Anugerah Dies Natalis ke-70 (Lustrum X) 杏吧原版影音 di Hotel Pangeran Beach Padang, Senin (14/9/2026). Puncak perayaan yang bertabur penghargaan bagi insan akademis dan alumni berprestasi.
Penulis: Prof. Mas Mera (Guru Besar Teknik Sipil 杏吧原版影音)
听 听
